Pasang iklan di sini Rp. 50.000/bulan

11:24 AM
0
Aksi demonstrasi anti Wall Street yang menggeliat sejak awal Oktober di New York kini mulai meluas ke Eropa. Di Amerika, awalnya hanya dihadiri ratusan demonstran yang umumnya mahasiswa. Dipicu oleh krisis ekonomi, dan keresahan atas ketamakan korporasi serta korupsi para elit bisnis, aksi itu kian membesar dari hari ke hari.

Di New York, aksi pada Sabtu 15 Oktober 2011 kemarin diikuti puluhan ribu demonstran. Para pengunjuk rasa memenuhi Times Square, pusat bisnis dan perbelanjaan di New York. Mereka adalah bagian dari “Hari Protes Global” untuk Gerakan Kuasai Wall Street yang telah dimulai beberapa pekan lalu di kota itu.

Pada hari sama, puluhan ribu orang lainnya juga berkumpul di berbagai kota lain di penjuru dunia. Mereka juga menentang praktik serakah korporasi, dan peran Wall Street dalam krisis keuangan. Selain New York, sejumlah kota lain adalah Madrid, London, Roma, Frankfurt, Sydney, dan Hongkong.

Di Madrid, Spanyol, puluhan ribu orang tergabung dalam gerakan "Indignants" berkumpul di pusat kota, lapangan Puerta del Sol. Aksi "Indignants" ini sendiri sebenarnya sudah digalang sejak jatuhnya ekonomi Spanyol, musim panas kemarin.

Di London, Inggris, lebih dari 2.000 demonstran berkumpul di depan Katederal St Paul. Dalam aksi demonstrasi yang dihadiri pendiri Wikileaks Julian Assange. Para demonstran mengutuk sistem ekonomi dan perbankan Inggris yang dianggap memberi celah bagi perilaku korupsi.

Sayangnya, aksi serupa di Roma berujung kerusuhan. Aksi damai itu berubah ricuh setelah sekelompok demonstran radikal berjubah hitam melakukan aksi pembakaran mobil, dan menyerang para pemburu berita.

Para demonstran juga merusak properti, dan membakar sejumlah mobil serta bendera Italia dan bendera Uni Eropa. Walikota Roma mengatakan kerugian akibat aksi itu sekitar $1,4 juta. Perdana Menteri Italia Silvio Berlusconi berjanji akan segera mengidentifikasi para pelaku, dan menangkap para perusuh.

Kaum '99 Persen'

Makin meluasnya "Gerakan Kuasai Wall Street" juga disebabkan oleh kampanye masif di internet. Awalnya, gerakan ini menggalang dukungan lewat internet, dengan mengumpulkan sejumlah cerita keluhan tentang kesulitan keuangan akibat krisis.

Massa yang menamakan diri 'Kelompok 99 Persen' ini mengumpulkan warga yang menuliskan keluh kesahnya dalam selembar kertas, lalu dipublikasi di laman wearethe99percent.tumblr.com.

Angka 99 persen itu adalah representasi jumlah warga negara AS yang susah akibat ulah miliuner, yang hanya berjumlah 1 persen. Selain itu, yang juga dianggap masuk kelompok 1 persen adalah para politisi, pengusaha, dan pemimpin korporasi.

Aksi sebagian besar dilakukan mahasiswa ini mengklaim sebagai pergerakan tanpa pemimpin. Anggotanya terdiri dari masyarakat berbagai macam warna, jenis kelamin dan haluan politik, kanan atau kiri.

Isu yang dibawa adalah isu populer, dan langsung menyentuh kehidupan masyarakat Amerika Serikat. Secara perlahan aksi ini meraih simpati dan semakin membesar.

"Para anak muda ini berbicara mewakili kebanyakan warga Amerika yang frustasi terhadap para bankir dan broker yang mengambil untung dari hasil kerja keras mereka," kata Larry Hanley, presiden Serikat Pekerja Transit, ketika ditanya alasan keikutsertaan dalam aksi demonstrasi itu.

"Ketika kita banting tulang setiap hari, setiap bulan, para jutawan dan miliuner di Wall Street hanya duduk diam, dan tak tersentuh. Mereka menceramahi kami bagaimana meningkatkan kerja," ujar Hanley, pemimpin serikat yang beranggotakan 20.000 orang ini.

Politis?

Gerakan Kuasai Wall Street adalah aksi protes atas sejumlah kebijakan pemerintah dan Bank Sentral AS. Kebijakan keuangan yang diambil selama ini dianggap memihak golongan 1 persen, ketimbang kesejahteraan masyarakat. Salah satu yang diprotes, adalah kebijakan bail out oleh Bank Sentral untuk menyelamatkan sejumlah korporasi besar.

Kepala Bank Sentral AS Ben Bernanke mengatakan dia tak bisa menyalahkan cara berpikir seperti itu. Tanggapan Bernanke ini diucapkan saat menjawab pertanyaan anggota Kongres asal Partai Republik, Michael Burgess, dalam sebuah rapat dengar pendapat.

"Saya berpikir masyarakat tak puas dengan kondisi ekonomi, dan apa yang terjadi saat ini. Dengan bermacam justifikasi, mereka menyalahkan sejumlah persoalan di sektor keuangan sebagai penyebab. Mereka tak puas dengan respon kebijakan yang dibuat di Washington. Dalam beberapa hal, saya tidak bisa menyalahkan mereka," ujar Bernanke.

Presiden AS Barack Obama memahami jika gerakan ini adalah ungkapan frustrasi atas apa yang dirasakan masyarakat Amerika Serikat. Namun, Obama tetap menyesalkan aksi demonstrasi itu.

"Kita memang mengalami krisis keuangan terparah sejak Depresi Besar (krisis keuangan AS di tahun '30-an)," ujar Obama. "Dan Anda bisa melihat sejumlah orang yang secara tak bertanggung jawab melawan upaya kami (pemerintah AS) dalam melawan praktek yang menyebabkan kita dalam kondisi ini," Obama melanjutkan.

Aksi Gerakan Kuasai Wall Street pun kemudian bernuansa politis ketika salah satu kandidat Presiden AS asal Partai Republik Herman Cain menuduh gerakan itu anti-kapitalis. Cain bahkan juga menuding gerakan ini adalah pengalihan isu atas sejumlah kebijakan gagal dari pemerintahan Obama.

"Jangan salahkan Wall Street, jangan salahkan bank-bank besar. Jika Anda tidak punya pekerjaan, jika Anda tidak kaya, salahkan diri Anda sendiri," ujar Cain.

Sejak awal, dengan menyebut gerakan ini sebagai tanpa pemimpin pun sebenarnya adalah upaya menghindari politisasi. Ketegasan "Kaum 99 Persen" ini dalam menyatakan Gerakan Kuasai Wall Street sebagai ungkapan kekecewaan pun terlihat dalam situs mereka.

"Kami adalah 99 persen. Kami yang diusir dari rumah. Kami yang dipaksa memilih antara membeli makanan atau membayar tagihan. Kami yang ditolak oleh layanan kesehatan berkualitas. Kami yang menderita akibat polusi lingkungan. Kami yang dipaksa bekerja berlebihan tapi dibayar rendah. Kami tidak mendapatkan apa-apa, sementara kaum satu persen mendapatkan semuanya," tulis situs itu.

Kian militan?

Di Amerika Serikat, militansi para demonstran juga kian meninggi. Polisi Chicago misalnya harus menahan 175 demonstran pada Minggu 16 Oktober 2011, dini hari. Mereka menolak perintah polisi untuk melucuti kemah, dan meninggalkan taman kota karena tempat itu tutup.

Chicago Tribune melaporkan sekitar 500 orang mendirikan tenda di gerbang Grant Park, Chicago pada Sabtu petang setelah aksi demonstrasi yang melibatkan 2000 orang. Polisi mengingatkan para demonstran setelah taman ditutup pada pukul 11 malam, dan menahan mereka yang menolak pergi. Mereka kini diperiksa, dan terancam denda karena melanggar peraturan kota.

Di New York, puluhan orang ditahan pada Sabtu kemarin ketika para demonstran memasuki sebuah kantor cabang Citibank, dan menolak meninggalkan tempat itu. Bank itu sementara ditutup, sampai para pemrotes bisa diusir dari sana.

Sumber : Vivanews.com

0 komentar:

Post a Comment