Pasang iklan di sini Rp. 50.000/bulan

2:10 PM
0
Musim dingin 1990, putri kedua Laurence Brown lahir. Namun ternyata putrinya mengalami gangguan kesehatan yang serius, terjadi penyempitan di lengkungan pembuluh darah aortanya yang  mengakibatkan peredaran darah bayi itu tidak lancar.

Brown yang  menyaksikan bagaimana tubuh mungil putrinya membiru dari bagian dada sampai ujung kaki menyadari bahwa outrinya harus dirawat di ruang perawatan intensif untuk bayi yang baru lahir. Sebagai seorang dokter bedah, Brown sangat paham tindakan medis apa yang akan dilakukan dokter terhadap putrinya. Tidak ada jalan lain selain melakukan pembedahan darurat di bagian dada, meski tindakan medis itu tidak memberikan peluang besar bagi puterinya untuk bertahan hidup.

Ketika konsultan ahli bedah kardio-toraks yang akan menangani putrinya datang, perasaan Brown campur aduk antara sedih dan takut. Ia merasa tidak ada teman kecuali rasa takut, dan tidak ada tempat untuk berbagi kesedihan. Sementara ia menunggu hasil pemeriksaan konsultan, ia pergi ke ruangan tempat berdoa di rumah sakit itu dan duduk bersimpuh.

Ia mengakui, bahwa itulah kali pertama dalam hidupnya ia berdoa dengan tulus dan sungguh-sungguh. Sebagai seorang atheis, saat itulah pertama kalinya ia mengakui Tuhan dengan  setengah hati meski dalam keadaan panik. Ia berdo’a dalam keadaan tidak sepenuhnya meyakini adanya Tuhan.

Dengan sikap skeptis Brown berdo’a. Dalam do’anya ia mengatakan “Tuhan, jika Tuhan itu memang ada, Tuhan pasti akan menyelamatkan putri saya, saya berjanji akan mencari dan mengikuti agama yang paling menyenangkan hati-Nya,”.

Usai berdo’a, sekitar 10 sampai 15 menit kemudian, Brown kembali ke ruang perawatan intensif putrinya dan sangat kaget ketika mendengar penjelasan konsultan bedah yang mengatakan bahwa putrinya akan baik-baik saja. Perkataan konsultan itu terbukti, dalam waktu dua hari, kondisi bayi perempuan Brown menunjukkan kemajuan tanpa harus diberi obat-obatan dan menjalani pembedahan. Bayi perempuan Brown yang diberi nama Hannah itu selanjutnya tumbuh dengan normal seperti anak-anak lainnya.

Setelah putrinya dinyatakan sehat, sekarang giliran Brown yang harus memenuhi janjinya di depan Tuhan, saat ia berdoa memohon keselamatan Hannah. Ia mengatakan, sebagai seorang atheis, mudah bagi Brown untuk membangun kembali ketidakpercayaannya akan eksistensi Tuhan, dan menyerahkan pemulihan putrinya pada dokter dan bukan pada Tuhan. Tapi Brown tidak melakukan itu. Brown merasa bahwa dalam perjanjian itu, Tuhan telah menunjukkan kebaikannya. Ia merasa harus melakukan hal yang sama, karena Tuhan sudah mengabulkan do’anya.

Bertahun-tahun lamanya Brown berusaha memenuhi “perjanjian”nya dengan Tuhan. Tapi ia merasa gagal menemukan agama yang ingin ia peluk. Brown mempelajari Yudaisme, beragam aliran Kristen, tapi ia tidak pernah merasa bahwa ia telah menemukan kebenaran.

Dalam perjalanannya mencari agama, ia telah mendatangi berbagai gereja aliran Kristen. Dan yang paling lama, ia mengikuti jamaah gereja Katolik Roma, namun secara resmi ia tidak pernah memeluk agama itu.

Ia mengaku tidak pernah bisa memilih agama Kristen karena alasan sederhana; ia tidak bisa menemukan kesesesuaian ajaran alkitab tentang Yesus dengan ajaran dari berbagai sekte Kristen lainnya. Karena tidak menemukan agama yang sesuai dengan hatinya, Brown akhirnya memilih berdiam diri di rumah dan banyak membaca. Di masa-masa itulah, Brown mengenal Al-Quran dan buku biografi Nabi Muhammad SAW. yang ditulis oleh Martin Lings,  dengan judul “Muhammad, His Life Based on Earliest Sources”.

Dari Al-Quran yang dibacanya, Brown menemukan bahwa kitab suci umat Islam mengajarkan kalau Tuhan itu hanya satu, dan nabi-nabi seperti Nabi Musa dan Yesus (Nabi Isa) juga mengajarkan tentang keesaan Tuhan. Sebuah konsep berbeda yang tidak pernah ia temukan dalam ajaran agama Yudaisme dan Kristen yang sempat dipelajarinya bertahun-tahun. Setelah membaca buku biografi Nabi Muhammad SAW. Brown juga mulai meyakini bahwa Nabi Muhammad adalah nabi terakhir.

Brown merasa kalau semua begitu masuk akal baginya. Kontinuitas rantai kenabian, turunnya wahyu, hanya satu Tuhan yang Maha besar, dan lengkapnya wahyu-wahyu Allah dalam Al-Quran, tiba-tiba ia merasakan sesuatu yang sempurna. Dan hal ini yang kemudian menjadikan ia sebagai Muslim.

Lebih dari 10 tahun Laurence Brown menjadi seorang muslim. Selama itu, ia belajar satu hal, bahwa di luar sana banyak orang yang lebih cerdas dan pandai dibandingkan dirinya, tapi orang-orang itu tidak mampu mengetahui kebenaran Islam.

Brown juga mengatakan bahwa yang terpenting bukanlah seberapa pintar seseorang, tapi sebuah pencerahan seperti yang ditegaskan Allah SWT. bahwa mereka yang tidak percaya agama Allah, tetap akan tidak percaya, meski diberi peringatan akan dosa. Jika demikian, Allah juga akan mengabaikan mereka dan menjauhkan mereka dari kebenaran-Nya. Ia juga sangat bersyukur pada Allah SWT. yang telah memberinya petunjuk, dan ia memperkuat petunjuk itu dengan satu formula yang sederhana yakni ‘mengakui adanya tuha, menyembah Allah semata dengan sungguh-sungguh berjanji untuk mencari dan mengikuti kebenaran ajaran-Nya.

Sumber : islampos.com

0 komentar:

Post a Comment