Pasang iklan di sini Rp. 50.000/bulan

2:48 PM
1
Selalu yang terbesit dalam pikiran kita jika disuruh menyebutkan kuliner umat Islam yang terkenal adalah kare, kebab, cane, pitta, kurma, biryani, baklawa, dan sebagainya. Tapi tahukah Anda, ternyata minuman yang orang bilang mengandung kafein itu atau yang biasa kita sebut kopi adalah salah satu warisan Islam?

Sebagaimana dilansir situs 1001 Islam Invention, Rabu (18/7/2012), penemuan kopi bermula dari seorang Arab bernama Khalid yang sedang menggembala kambingnya di wilayah Kaffa, bagian selatan dari Ethiopia. Ketika itu ia melihat kambing-kambingnya lebih segar setelah memakan biji-bijian dari dari sejenis tumbuhan. Ia lalu merebus biji tersebut dan membuat kopi pertama di dunia. Sejarah kemudian mencatatnya setelah biji-biji kopi tersebut diekspor dari Ethiopia ke Yaman dan digunakan oleh para sufi untuk mengusir kantuk pada saat beribadah pada malam hari atau pada acara-acara tertentu.

Tepatnya di daerah Yaman, kopi pertama kali dibudidayakan oleh umat Islam berabad-abad lalu. Mereka menikmatinya dengan cara merebusnya dan menjadikannya minuman yang masyhur disebut Qahwah. Awalnya, kopi ini merupakan konsumsi kaum sufi untuk menjadikannya kuat dan tahan zikir dan shalat malam, karena efek penyegar yang diakibatkan oleh kafein yang dikandungnya. Kopi merupakan salah satu cara ampuh membuat mata bertahan melek hingga jauh malam untuk beribadah.

Dengan meminum kopi, orang-orang kelas makrifat semakin tegar beribadah, seolah kopi mendatangkan cahaya bagi rohani dan jasmani mereka. Dari Kaum sufi inilah kopi kemudian menjadi konsumsi umum di masyarakat Muslim Yaman dan baru kemudian dikenal di seluruh dunia Islam melalui para musafir dan jamaah haji.

Kopi mulai menjangkau Makkah dan Turki sekitar akhir abad 15, dan tiba di Venesia pada tahun 1645. Kemudian mulai dikenal di Kairo pada abad 16. Kopi dibawa ke Inggris pada tahun 1650 oleh orang Turki yang bernama Pasqua Rosee, orang yang membuka kedai kopi pertama di Jalan Lombard di kota london.

Sejarah mencatat, kopi masuk ke Benua Eropa melalui Italia. Saat itu terjalin kerjasama dagang yang cukup baik antara Italia dengan Afrika Utara. Mesir dan Barat adalah awal perkenalan meraka terhadap kopi. Setelah mencoba rasanya, mereka pun yakin akan potensi pasar yang cukup besar di daratan Eropa.

Pada awalnya kopi masih merupakan minuman elit di Eropa. Hanya orang-orang kaya yang dapat menikmatinya. Baru setelah banyak dijual di pasaran Wina, kopi menjadi konsumsi umum masyarakat. Kedai Kopi pertama kali di Wina dibuka pada 1645. Begitu digemarinya minuman asal Arab ini, pada 1763 sudah ada 218 kedai kopi di Wina. Perdagangan kopi pun meluas dari Wina ke Amalfi, Turin, Genoa, Milan, Florencia, dan Roma. Setelah itu, kopi kemudian tersebar ke seluruh Benua Eropa.

Sedangkan kopi masuk ke Indonesia melalui Belanda. Tidak diketahui jelas kapan tepatnya kopi dikenal di Belanda. Namun Belanda pernah menjadi negara eksportir kopi terbesar di Eropa. Diyakini bahwa Belandalah yang pertama kali mendapatkan benih kopi dari masyarakat muslim di Asia Timur. Benih tersebut kemudian ditanam secara besar-besaran di Indonesia, terutama di pulau Jawa. Dari Jawa, Belanda meraup kesuksesan bisnis kopi di Eropa.

Sementara kopi dikenal di Benua Amerika melalui penjajahan Perancis di sebagian besar Benua tersebut. Kopi Perancis pertama kali dikenalkan di Martinique di mana kebun kopi ditemukan di sana.

Kopi Cappunino yang sekarang digemari ini, dikenali pertama kali oleh Turki. Cara masyarakat Eropa mengonsumsi kopi tidak jauh berbeda dengan masyarakat Muslim waktu itu, yaitu menghidangkannya sebagai minuman kopi murni. Kopi bubuk direbus dengan air kemudian ditambah gula untuk menghilangkan rasa pahitnya. Namun, pada saat ini semakin banyak kita kenal kopi yang disajikan dalam bentuk campuran seperti susu, krimer atau bahan minuman lain seperti jahe dan ginseng serta penambahan berbagai jenis flavor selain kopi.

Inovasi terhadap penyajian kopi ini diawali pada tahun 1683, yakni sejak ditemukan kopi yang dikenal hingga kini dengan cappuccino. Cara penyajian ala cappuccino ini diinspirasi oleh pesanan Marco D'Aviano, seorang imam Biara Capuchin, yang ikut perang melawan pasukan Turki Ustmani di Benteng Wina tahun 1683. Menyusul kemenangan mereka terhadap pasukan Turki, mereka menemukan karung berisi kopi yang ditinggalkan oleh tentara Turki.

Namun bagi mereka rasa kopi tersebut terlalu kuat, dicampurkanlah ke dalamnya kream dan madu. Campuran ini menjadikan kopi berubah warnaya menjadi coklat yang mirip dengan warna jubah yang dikenakan Biara Capuchin. Penamaan cappuccino ini merupakan penghormatan untuk Marco D'Aviano's. Sejak saat itulah cappuccino menjadi minuman yang cukup digemari dengan rasa yang sangat enak. Cappucino juga menjadi simbol kemenangan Eropa terhadap Khilafah Turki Utsmani.

Ternyata pengaruh budaya Islam terhadap Eropa sangatlah kuat dan banyak sekali, tidak hanya dalam bidang sains, teknologi, seni, dan arsitektur. Kisah di atas hanya menampilkan salah satu dari sekian banyak tradisi masyarakat Islam yang diadopsi oleh bangsa Eropa dan kemudian menyebar ke semua peradaban dunia.

Sumber : ramadan.detik.com

1 komentar:

  1. Goblok nih Admin, gak bisa bedain budaya Arab dan Islam, mmg sama yah antara Bangsa dan Agama...?

    ReplyDelete